KATA PENGANTAR
Puji
syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “AYAT-AYAT TENTANG HUBUNGAN ANTAR AGAMA”
Semoga makalah ini dapat memberikan
kontribusi positif dan bermakna dalam proses perkuliahan. Dari lubuk hati yang
paling dalam, sangat disadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.
Terakhir, ucapan terima kasih kami
sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
makalah ini. Selain itu, kami juga berterima kasih kepada para penulis yang
tulisannya kami kutip sebagai bahan rujukan.
Palu,
Pemakalah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN.....................................................................................
A. Latar Belakang.............................................................................................
B. Rumusan
Masalah........................................................................................
BAB II
PEMBAHASAN.......................................................................................
A. Surat Al-Mumtahanah Ayat
7-9..................................................................
B. Surat Al-Baqarah Ayat 62...........................................................................
C. Surat Al-Baqarah Ayat
120.........................................................................
D. Surat Al-Baqarah Ayat 213.........................................................................
E. Surat Ali-Imran Ayat
61..............................................................................
F. Surat Al-Kafirun Ayat 1-6...........................................................................
BAB III
PENUTUP...............................................................................................
A. Kesimpulan..................................................................................................
B. Saran............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sebagaimana yang kita ketahui Negara kita
Indonesia adalah negara yang majemuk. Hal itu bisa dibuktikan dari berbagai
macam keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Keanekaragaman
tersebut antara lain meliputi, suku, bangsa, bahasa, ras, termasuk di dalamnya
agama. Keanekaragaman ini ibarat dua sisi mata pedang, di sisi lain dia
bisa menjadi aset berharga untuk bangsa kita namun d isisi lain ia justru bisa
menjadi ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal di atas menunjukkan pembenarannya kalau
kita perhatikan beberapa fenomena yang terjadi di Indonesia belakangan ini.
Banyak konflik yang terjadi di sebabkan oleh perbedaan- perbedaan di atas,
sebagai contoh : Perang Saudara di Ambon, Tragedi Priok ,Peristiwa Lampung, dan
mungkin yang paling hangat di dalam ingatan kita bermunculannya aliran sesat
(sempalan) seperti kasus Ahmadiyah, Lia Eden, Ahmad Musaddiq (nabi palsu), dan
lain sebagainya.
Munculnya beberapa peristiwa di atas menuntut
munculnya sikap yang dewasa dan berlapang dada mengingat negara kita adalah
memang negara yang majemuk (plural). Namun yang terjadi belakangan ini
sungguh memprihatinkan. Nilai-Nilai mulia tersebut mulai tergerus oleh sebuah
sikap yang bernama egoisme . Konflik-konflik dalam beragama sering kali
diselesaikan dengan cara – cara yang tidak dewasa dan rentan dengan sikap
anarkisme. Disinilah letak pentingnya peran ajaran agama sebagai lembaga
kontrol sosial terhadap berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat
dan bernegara. Agama Islam khusunya melalui kitab sucinya Al-Qur’an telah
mengatur pola hubungan antar umat beragama seperi yang akan di jelaskan melaui
beberapa ayat berikut ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tafsir surat Al-Mumtahanah
ayat 7-9?
2. Bagaimana tafsir surat Al-Baqarah
ayat 62, 120 dan 213?
3. Bagaimana tafsir surat Ali Imran
ayat 61?
4. Bagaimana tafsir surat Al-Kafirun
1-6?
BAB II
PEMBAHASAAN
A.
Surat
Al-mumtahanah: 7-9
عَسَى اللهُ اَنْ يَّجْعَلَ بَيْنَكُمْ
وَبَيْنَ الَّذِيْنَ عَا دَ يْتُمْ مِنْهُمْ مَّوَدَّةً وَاللهُ قَدِيْرٌ وَاللهُ غَفُوْرُرَّحِيْمٌ ِ لاَ يَنْهكُمُ
اللهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ
مِنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوا اِلَيْهِمْ اِنَّ اللهَ يُحِبُّ
الْمُقْسِطِيْنَ ِ اِنَّمَا يَنْهكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِيْنَ قَا تَلُوْكُمْ
فِى الدِّيْنِ وَاَخْرَجُوْكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوْا عَلَى اِخْرَاجِكُمْ
اَنْ تَوَلَّوْ هُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَاُولَئِكَ هُمُ الظَّلِمُوْنَ ِ
7. Mudah-mudahan Allah menimbulkan
kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. dan
Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
8. Allah tidak melarang kamu untuk
berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu
karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang Berlaku adil.
9.
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang
yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu
(orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan,
Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.[[1]]
Tafsirnya
Secara umum ,ayat ini menerangkan begitu
pentingnya toleransi. Seperti dikisahkan oleh Ibnu Ishak dalam “Sirahnya” dan
juga Ibnul Qoyyim dalam “Zaadul ma’ad” adalah ketika Nabi Sallallahu’alaihiwa
sallam kedatangan utusan Nasrani dari Najran berjumlah 60 orang.
Diantaranya adalah 14 orang yang terkemuka
termasuk Abu Haritsah Al-Qomah.sebagai guru dan uskup. Maksud kedatangan mereka
itu adalah ingin mengenal Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dari dekat.
Benarkah Muhammad itu seorang utusan Tuhan dan bagaimana dan apa sesungguhnya
ajaran islam itu. Mereka juga ingin membandingkan antara Islam dan Nasrani.
Mereka ingin bicara dengan Rasullullah Shallallahu’alaihi wa sallam tentang
berbagai macam masalah agama. Mereka sampai di Madinah saat kaum muslimin telah
selesai shalat Ashar. Mereka pun sampai di masjid dan akan menjalankan
sembahyang pula menurut cara mereka. Para sahabatpun heboh.
Mengetahui hal tersebut, maka Rasullullah
Shallallahu’alaihi wa sallam berkata “Biarkanlah mereka!” maka mereka pun
menjalankan sembahyang dengan cara mereka dalam masjid Madinah itu. Dikisah-kan
bahwa para utusan itu memakai jubah dan kependetaan yang serba mentereng,
pakaian kebesaran dengan selempang warna-warni.
Peristiwa di atas menunjukan toleransi
Rasullullah Shallallahu’alahi wasallam kepada pemeluk agama lain. Walaupun
dalam dialog antara Rasullullah Shallallahu’alahi wa sallam dengan utusan
Najran itu tidak ada “kesepakatan” kerena mereka tetap menganggap bahwa Isa
adalah “anak Tuhan” dan Rassullullah Shallallahu’allahi wa sallam berpegang
teguh bahwa Isa adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’allah dan sebagai
Nabiyullah,Isa adalah manusia biasa. Para utusan itu tetap dijamu oleh
Rasullullah Shallallahu’alahi wa sallam dalam beberapa hari.
Dari ayat di atas menjelaskan bahwa Tuhan hanya melarang
kamu berkawan setia dengan orang-orang yang terang-terang memusuhimu, yang
memerangi kamu, yang mengusir kamu atau membantu orang-orang yang mengusirmu
seperti yang dilakukan musyrikin Makkah. Sebagian mereka berusaha mengusirmu
dan sebagian yang lain menolong orang yang mengusirmu.
Adapun orang-orang yang menjadikan musuh-musuh itu sebagai
teman setia, menyampaikan kepada mereka rahasia-rahasia yang penting dan
menolong mereka, maka merekalah yang dhalim karena menyalahi perintah Allah.[[2]]
B. Surah
Al-baqoroh: 62
إِنَّ الَّذِيْنَ ءَا مَنُوْا وَالَّذِيْنَ
هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِيْنَ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ
وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ
وَلَاهُمْ يَحْزَنُوْنَ
62. Sesungguhnya orang-orang mukmin,
orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja
diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan
beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada
kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Asbabun Nuzul
Dikemukakan Ibnu Abi Hatim dari Salman al-Farisi: Saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang para pemeluk agama yang pernah saya anut. Dia pun menerangkan sholat dan ibadah mereka. Lalu turunlah ayat ini?[[3]]
Tafsirnya
Allah Swt berfirman:
Dikemukakan Ibnu Abi Hatim dari Salman al-Farisi: Saya bertanya kepada Rasulullah saw tentang para pemeluk agama yang pernah saya anut. Dia pun menerangkan sholat dan ibadah mereka. Lalu turunlah ayat ini?[[3]]
Tafsirnya
Allah Swt berfirman:
Sesungguhnya orang-orang mukmin,
orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin
Setidaknya ada tiga penafsiran
mengenai siapa yang dimaksud dengan al-ladziina manu. Pertama,
orang-orang yang beriman kepada Isa as. yang hidup sebelum diutusnya Rasulullah
saw. Pada saat yang sama mereka berlepas diri dari kebatilan agama Yahudi dan
Nasrani. Di antara mereka ada yang sampai menjumpai Rasulullah saw dan
mengikuti beliau, ada pula yang tidak sempat.[4] Demikian menurut Ibnu
Abbas dalam suatu riwayat.[5]
Kedua, orang-orang munafik yang mengaku
beriman. Penafsiran itu dikemukakan Sufyan al-Tsauri, al-Zamakhsyari, dan
al-Nasafi.[6][4]
Ketiga, orang-orang yang beriman kepada
Nabi Muhammad saw secara benar. Di antara yang berpendapat demikian adalah
al-Qurthubi, al-Thabari, al-Syawkani, dan al-Jazairi.[7]
Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, Setelah Allah Subhanahu Wa Ta'ala
menerangkan keadaan (dan hukuman bagi) orang-orang yang menyelisihi
perintah-perintah-Nya dan mengabaikan larangan-larangan-Nya, melampaui
batasan-batasan yang telah ditetapkan, menerjang hal-hal yang diharamkan,
Allah memperingatkan bahwa barangiapa yang berbuat baik (ihsan) dan taat dari
umat-umat terdahulu, maka balasannya adalah kebaikan pula (surga). Demikian hal
tersebut berlaku sampai hari kiamat. Barangsiapa menaati Rasul maka ia berhak
mendapatkan kebahagiaan yang abadi, tanpa rasa takut terhadap masa depan
mereka, tak pula rasa sedih terhadap apa-apa yang telah mereka tinggalkan di
masa lalu.
As-Suddi berkata tentang ayat ini, ayat ini turun mengenai
kaum Salman Al-Farisi, yaitu ketika dia menceritakan kepada Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam perihal mereka. Ia berkata, “Mereka berpuasa, shalat,
beriman kepada engkau, bersaksi bahwa engkau akan diutus sebagai nabi.” Seusai
menceritakan tentang pujian kepada mereka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wasallam bersabda, “Wahai Salman, mereka termasuk penduduk neraka.” Jawaban
itu membuat Salman merasa gelisah. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan
ayat tersebut.
Yang dimaksud keimanan umat Yahudi adalah barangsiapa di
antara mereka yang berpegang teguh terhadap Taurat dan ajaran Nabi Musa 'alaihissalam
sampai datangnya Nabi Isa 'alaihissalam Ketika Nabi Isa datang, maka
barangsiapa yang masih berpegang teguh terhadap Taurat dan ajaran Nabi Musa,
maka ia akan celaka.
Sedangkan yang dimaksud dengan keimanan umat Nasrani adalah
barangsiapa di antara mereka yang berpegang teguh terhadap Injil dan ajaran
Nabi Isa a.s maka dia disebut orang beriman dan imannya diterima sampai
datangnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka barangsiapa
tidak mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan tidak
meninggalkan ajaran Nabi Isa dan Injil, maka ia akan celaka.
C.
Surat
Al-baqoroh: 120
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَاالنَّصَارَى
حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَالْهُدَى وَلِئنِ اتَّبَعْتَ
أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَالَّذِيْ جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَالَكَ مِنَ اللهِ مِنْ وَلِيِّ
وَلَا نَصِيْرٍ
120. orang-orang Yahudi
dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.
Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang
benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah
pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan
penolong bagimu.
Tafsirnya
1).
Upaya sejak dini memisahkan risalah dan pembawa risalah-nya
terungkap jelas melalui ayat ini. Yaitu dengan cara memalingkan Rasul dari
risalah yang dibawanya. Agen utama mereka ialah orang-orang Yahudi dan
Nashrani. Pertama-tama mereka menyebarkan berita yang diakuinya sebagai ajaran
yang bersumber dari Kitab Suci mereka. “Dan mereka (kaum Yahudi) berkata:
‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa
hari saja.’ (2:80). Tujuannya, menjustifikasi supremasi mereka terhadap
Rasul dan pengikutnya tanpa harus meninggalkan kebiasan-kebiasaan lama mereka
seperti ajaran baru Nabi Muhammad.
2).
Anak kalimat لَن تَرْضَى عَنكَ [lan tardhā ‘anka, sekali-sekali tidak akan
pernah redha kepadamu (Muhammad)]. Fungsi لَن (lan) sebagai negasi taukĭd
di ayat ini juga berlaku sampai Hari Kiamat. Kedua, kata تَرْضَى (tardhā)
yang kata dasarnya رضى (ra-dhi-ya), diartikan dengan “merestui,
meridhai, senang”. Ketiga, kata عَنكَ
(‘anka), yang aslinya
berasal dari dua penggal kata: عَن (‘an) dan كَ (ka).
Kata عَن (‘an)
sebetulnya adalah bagian dari kata تَرْضَى (tardhā), sehingga lengkapnya
harus berbunyi تَرْضَى عَن (tardhā ‘an). Sehingga yang paling penting di dalam
kata عَنكَ (‘anka)
ini ialah huruf كَ (ka)-nya yang merupakan dhamĭr mukhathab
mufrad (kata ganti orang kedua tunggal) untuk Rasulullah. Agar
ayat لَن تَرْضَى عَنكَ (lan tardhā ‘anka) terus berlaku, seperti disifati
oleh kata لَن (lan), sepanjang keberlakuan al-Qur’an dan risalah
kenabian, maka yang bisa difahami di situ ialah bahwa ayat ini memberikan
indikasi yang begitu jelas tentang mustinya selalu ada satu sosok ilahi
di setiap masa yang mengganti posisi Rasul di huruf كَ
(ka)-nya.
Sosok-sosok inilah yang akan menerima keberlakuan ayat 120 ini pada dirinya.
Kalau sekiranya yang dituju bukan satu sosok khusus, maka ayatnya akan seperti
ini: “Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kalian ridha kepada mereka.
Tetapi jika sekiranya kalian ridha kepada mereka, maka sesungguhnya Allah tidak
ridha kepada orang-orang yang fasik itu.” (9:96)
3).
Menurut al-Wahidi, ayat ini turun berkenaan dengan permintaan cease-fire
(gencatan senjata) orang-orang Yahudi dan Nashrani kepada Rasul dalam suatu peperangan.
Mereka berharap bahwa dengan cease-fire (gencatan senjata) dan waktu
tangguh yang diberikan kepada mereka itu, Rasul sekaligus ridha dan sepakat
dengan مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka.
Sedangkan menurut as-Suyuthi, mengutip Ibnu Abbas, ayat ini turun berkenaan
dengan pemindahan kiblat salat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram, yang
membuat orang Yahudi dan Nashrani kecewa dan berputus asa dalam mengusahakan
agar Nabi ridha dengan مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka.
4).
Bahkan bukan hanya merugi. Siapa yang mengikuti مِلّة (millah, pola hidup, cara
berfikir) mereka, dengan meninggalkan risalah Islamnya, maka Allah
memastikan akan menarik diri sebagai Pelindung dan Penolong mereka:
وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ
الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلا نصيرَ
D.
Surat
Al-baqoroh: 213
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ
اللهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابِ
بِالحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ وَمَا اخْتَلَفَ
فِيْهِ اِلَا الَّذِيْنَ أُوْتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ البَيِّنَاتُ بَغْيًا
بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا لِمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ مِنَ
الحِقِّ بِإِذْنِهِ وَاللهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ
213. manusia itu adalah umat yang satu.
(setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi
peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi
keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah
berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada
mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang
nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk
orang-orang yang beriman kepada
kebenaran
tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah
selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
Tafsirnya
Maksudnya, mereka bersatu di atas petunjuk, kondisi itu
selama sepuluh abad setelah Nabi Nuh AS, dan ketika mereka berselisih dalam
perkara agama, lalu sekelompok dari mereka kafir, sedangkan sisanya masih tetap
di atas petunjuk dan terjadi perse-lisihan, maka Allah mengutus kembali
Rasul-rasulNya untuk mele-rai antara manusia dan menegakkan hujjah atas mereka.
Pendapat lain mengatakan, akan tetapi mereka maksudnya,
dahulu manusia bersatu di atas kekufuran, kesesatan, dan kesengsaraan, mereka
tidak memiliki cahaya dan tidak pula keimanan, hingga Allah merahmati mereka
dengan mengutus para Rasul ke-pada mereka, مُبَشِّرِينَ "sebagai pemberi kabar gembira"
bagi orang-orang yang taat kepada Allah dengan hasil ketaatan mereka seperti
rizki, kekuatan tubuh, kekuatan hati serta kehidupan yang baik, dan yang paling
tinggi dari itu semua adalah kemenangan dengan keridhaan Allah dan surga, وَمُنذِرِينَ
"Juga pemberi peringatan" bagi orang yang bermaksiat kepada Allah
dengan hasil kemaksiatan mereka seperti menahan rizki untuk mereka, kelemahan,
kehinaan, serta kehidupan yang sempit, dan yang paling besar dari semua itu
adalah kemurkaan Allah dan neraka.
E. Surat
Ali-Imron :61
فَمَنْ
حَاجَّكَ فِيْهِ مِنْ بَعْدِ مَاجَاءَكَ مِنَ العِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا
وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَ أَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ
نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللهِ
61. siapa yang membantahmu tentang
kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah
(kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu,
isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah
kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan
kepada orang-orang yang dusta.
Asbabun Nuzul
Pada hadits shahih muslim tentang turunnya ayat
ini : Rasulullah s.a.w. mendo’akan ftimah, hasan, Husain, maka Nabi bersabda: ya
Allah ya Tuhan ku, mereka itu adalah keluarga ku kemudian kami memohon maka
kami menjadikan laknat Allah itu bagi orang-orang yang dusta. Maka kami berkata
: ya Allah ya Tuhan ku laknat itu bagi orang-orang yang dusta dari kami pada
urusan Isa a.s. dan ketika mereka berdo’a dan memohon mereka berkata laranglah
dan terimalah dengan keharusan.
Tafsirnya
Menurut Al-Maraghi “Dalam ayat di atas perkataan anak-anak
soleh dan isteri disebut terlebih dahulu daripada dirinya sendiri. Padahal
seseorang sentiasa memikirkan nasib anak dan isterinya, sebenarnya adalah untuk
menyatakan betapa Nabi SAW telah berasa aman, memiliki kepercayaan yang penuh
dan keyakinan yang teguh dengan kebenaran misinya, hinggakan Baginda menaruh
kepercayaan sesuatu misbah yang tidak diinginkan akan menimpa mereka. “Ayat ini dinamakan ayat mubahalah, ertinya berdoa agar
musuhnya mendapat laknat Allah”.
Menurut Muhammad Quraish Shihab “Ayat ini diletakkan setelah
ajakan memanggil anak dan isteri dan sebelum bermubahalah. Ini memberi isyarat
bahawa Nabi SAW masih memberi kesempatan waktu yang relatif tidak singkat
kepada yang diajak itu, untuk berfikir menyangkut soal mubahalah, karena
akibatnya sangat fatal”.
Hamka berkata: “Mubahalah ialah bersumpah yang berat. Di
dalam sumpah itu dihadirkan anak dan isteri dari kedua pihak yang bersangkutan,
lalu diadakan untuk mempertahankan kebenaran masing-masing. “Jika kedua belah pihak masih tidak mengalah dan bertolak
ansur maka tunggulah laknat-Nya kepada siapa yang masih mempertahankan pendirian
yang salah. Inilah ajakan Rasulullah SAW kepada utusan-utusan Najran yang
mempertahankan Nabi Isa adalah putera Allah SWT. “Ayat mubahalah adalah
pembuktian antara yakin dan teguhnya orang Islam pada iman dan kepercayaannya.
Keyakinan Tauhid adalah pegangan seluruh keluarga untuk mempertahankan diri
hidup atau mati demi menegakkan kebenaran”.
Dari
ayat ini, kita dapatkan beberapa pelajaran:
1. Pertanyaan harus dijawab dengan
argumentatif dan logis, namun jiwa membangkang dan kedegilan tidak akan punya
jawaban melainkan kemurkaan dan laknat. Orang-orang yang selalu mencari alasan,
artinya mereka sedang menunggu hukuman Tuhan.
2. Jika kita meyakini agama Tuhan,
maka kita harus berdiri tegak dan hendaknya kita ketahui bahwa pihak musuh akan
mundur karena kebatilannya.
3. Ahlul Bait Rasul tak ubahnya
seperti beliau, doa mereka mustajab. Rasul dengan amalannya mengenalkan Hasan
dan Husein sebagai anak-anaknya dan Ali Bin Abi Thalib sebagai dirinya.
4. Meminta bantuan dari ghaib
saatnya adalah setelah memanfaatkan potensi-potensi atau kekuatan-kekuatan
normal. Rasul pada awalnya melakukan tabligh dan dialog, dan baru setelah itu
memasuki tahap doa dan mubahalah.
F.
Surat
Al-kafirun:1-6
قُلْ
يَاأَيُهَاالكَافِرُوْنَ ِ لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ
ِ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُوْنَ
مَا أَعْبُدُ ِ وَلَا أَنَا
عَابِدٌ مَاعَبَدْتُمْ ِ وَلَا
أَنْتُمْ عَا بِدُوْنَ مَاأَعْبُدُ ِ لَكُمْ
دِ يْنُكُمْ وَ لِيَ دِيْنِ
1. Katakanlah: "Hai orang-orang
kafir,
2.
aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. dan kamu bukan penyembah Tuhan yang
aku sembah.
4. dan aku tidak pernah menjadi
penyembah apa yang kamu sembah,
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi
penyembah Tuhan yang aku sembah.
6. untukmu agamamu, dan untukkulah,
agamaku."
Asbabun Nuzul Surah Al-kafirun
”Mufassir berkata : sesungguhnya orang
meminta kepada Rasulullah s.a.w. agar menyembah tuhan mereka setahun dan
setahun lagi menyenbah Allah maka mu ’az berkata: akankah kita menduakan Allah
dengan sesuatu maka mereka berkata : maka selamatkanlah sebagian tuhan-tuhan
kita, kami mempercayai mu dan kami menyembah tuhanmu wahai Muhammad .Maka
turunlah ayat ini.”
Tafsirnya
Secara umum (global), surat ini memiliki dua
kandungan utama. Pertama, ikrar kemurnian tauhid, khususnya
tauhid uluhiyah(tauhid ibadah).Kedua, ikrar penolakan
terhadap semua bentuk dan praktek peribadatan kepada selain Allah, yang
dilakukan oleh orang-orang kafir. Dan karena kedua kandungan makna ini begitu
mendasar sekali, sehingga ditegaskan dengan berbagai bentuk penegasan yang
tergambar secara jelas di bawah ini :
Pertama, Allah memerintahkan Rasul-Nya
Sallallahu’allahi wa Sallam untuk memanggil orang-orang kafir dengan Khitab(panggilan)
‘yaa ayyuhal kafirun’ (wahai orang-orang kafir), padahal Al-Qur’an tidak
biasa memanggil mereka dengan cara yang semacam ini. Yang lebih umum digunakan
dalam Al-Qur’an adalah khitab semacam ‘yaa ayyuhan naas’(wahai
sekalian manusia) dan sebagainya.
Kedua, pada ayat ke-2 dan ke-4 Allah memerintahkan
Rasullullah Shallallahu’allahi wa Sallam untuk menyatakan secara tegas, jelas
dan terbuka kepada mereka, dan tentu sekaligus kepada setiap orang kafir
sepanjang sejarah, bahwa beliau (begitu pula umatnya) sama sekali tidak akan
pernah (baca: tidak dibenarkan sema sekali) menyembah apa yang disembah oleh
orang-orang kafir.
Ketiga, pada ayat ke-3 dan ke-5 Allah memerintahkan
Rasullullah shallallahu’allahi wa sallam untuk menegaskan juga dengan jelas dan
terbuka bahwa, orang-orang kafir pada hakikatnya tidak akan pernah benar-benar
menyembah-Nya. Dimana hal ini bisa pula kita pahami sebagai larangan atas
orang-orang kafir untuk ikut-ikutan melakukan praktek-praktek peribadatan
kepada Allah sementara mereka masih berada dalam kekafirannya. Mereka baru
boleh melakukan berbagai praktek peribadatan tersebut jika mereka sudah masuk
ke dalam agama Islam.
Keempat, Allah lebih menegaskan hal kedua dan ketiga
diatas dengan melakukan pengulangan ayat, dimanana kandungan ayat ke-2 diulang
dalam ayat ke-4 dengan sedikit perubahan redaksi nash,sedang ayat ke-3
diulang dalam ayat ke-5 dengan redaksi nash yang sama persis.Adanya
pengulangan ini menunjukan adanya larangan yang bersifat total dan
menyeluruh,yang mencakup seluruh bentuk dan macam peribadatan.
Kelima, Allah memungkasi dan menyempurnakan semua hal
diatas dengan penegasan terakhir dalam firman-Nya : ‘Lakum dinukum wa liya
diin’(bagi kalian agama kalian dan bagiku agamaku). Dimana kalimat penutup
yang singkat ini memberikan sebuah penegasan sikap atas tidak bolehnya
pencampuran antar agama Islam dan agama lainnya. Jika Islam ya Islam tanpa
boleh dicampur dengan unsure-unsur agama lainnya dan demikian pula sebaiknya.
Ayat ini juga memupus harapan orang-orang kafir yang menginginkan kita untuk
mengikuti dan terlibat dalam peribadatan-peribadatan mereka.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam sebuah masyarakat yang dicirikan oleh kemajemukan
agama, tidak ada hal yang sedemikian penting dan mendesak seperti hubungan
antar umat beragama. Berbicara tentang hubungan antar agama, wacana
pluralisme agama menjadi perbincangan utama. Pluralisme agama sendiri dimaknai
secara berbeda-beda di kalangan cendekiawan Muslim Indonesia, baik secara
sosiologis, teologis maupun etis.
Secara sosiologis, pluralisme agama adalah suatu kenyataan
bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini
adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi.
Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda. Pengakuan
terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini merupakan pluralisme
yang paling sederhana, karena pengakuan ini tidak berarti mengizinkan pengakuan
terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama lain.
B. Saran
Islam mengatur dengan jelas
batas-batas pergaulan dan hubungan antara seorang muslim dan non-muslim, maka
wajib bagi kita untuk mengikuti dan mentaatinya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Baghawi. Ma’alim al-Tanzil,
vol. 1. Beirut: Dar al-Kutub al-?Ilmiyyah. 1993.
Al-Qurthubi. Al-Jami’ li Ahkm al-Quran,
vol. 1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.
Al-Suyuti. Al-Durr al-Mantsir fi
Tafsir al-Mantsir vol. 1. Beirut: Dar al-Fikr, 1990.
Al-Zamakhsyari. Al-Kasyif, vol. 1.
Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 1995.
Al-Asafi. Madrik al-Tanzil, vol.
1. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah. 2001.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an
dan Terjemahannya. Semarang: Karya Toha Putra. 1995
Katsir, Ibnu. Tafsir Al-Qur’an
al-‘Adhim, Juz IV. Beirut : Dar al-Ilmiyyah. 1987
Nidzam al-Din al-Naysaburi, Tafsir
Gharib al-Qur’an, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-IIlmiyyah, 1996), 302
T.M.
Hasbi ash-Shiddieqy. Tafsir Al-Qur’anul Majid (An-Nuur) Juz 5. Semarang:
Pustaka Rizki Putra. 1995.
Katsir, Ibnu (1987)Tafsir Al-Qur’an
al-‘Adhim,JuzIVBeirut : Dar a
[1]
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang:
Karya Toha Putra, 1995), h.
[2]
T.M. Hasbi ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid
(An-Nuur) Juz 5, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1995, hlm. 4045.
[3]
al-Suyuti, al-Durr al-Mantsir fi Tafsir al-Maitsir vol. 1
(Beirut: Dar al-Fikr, 1990), h.143
4 Al-Baghawi, Ma’alim al-Tanzl, vol. 1
(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 46
5 Nidzam al-Din al-Naysaburi, Tafsir
Gharib al-Qur’an, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-IIlmiyyah, 1996), 302